Cita-cita atau Keserakahan

Setiap manusia pasti memiliki cita-cita yang tinggi. Cita-cita itu bisa menjadikan diri kita semangat, selalu berjuang untuk menggapainya. Tapi apakah benar apa yang kita ucapkan saat diberi pertanyaan,”Apa cita-citamu?” memang keinginan ataukah ikut-ikutan teman saja? Hanya diri sendiri dan Allah yang tau. Tidak ada hukuman untuk orang yang memiliki cita-cita sangat tinggi dan terdengar mustahil untuk orang tersebut, cita-cita adalah hak setiap orang. Keinginan itu bisa menjadi nyata dan bisa menjadi kenyataan, jika kita selalu berusaha dan tidak pernah putus asa. Rintangan pasti ada untuk menguji kita, dan kita tidak boleh menghindarinya. Kita harus menghadapinya. Allah tidak mungkin memberikan cobaan yang melebihi kemampuan umatnya. Berdoa adalah kunci utama keberhasilan, kita hanya bisa memohon bantuan kepada Allah disaat apapun juga. Jangan samapai melupakan Tuhan sang pencipta alam semesta. Continue reading

U.S.D.I.A. (Usaha, Semangat, Doa, Ilmu, Amal)

Cinta memang tak selamanya membawa bahagia
Teman belum tentu menjadikan diri kita bahagia pula
Hidup itu tidak selalu sama
Tergantung bagaimana kita berupaya

Keteguhan hati membuat baik jati diri kita
Mudah menyerah dan suka pasrah membuat kita makin lemah
Semakin lemah tanpa ada daya apa apa

Usaha, kemampuan kita untuk berupaya
Berupaya untuk melakukan sesuatu yang terbaik

Semangat, salah satu hal
Salah satu hal untuk kita bisa maju

Doa, kewajiban yang harus kita lakukan
Kita lakukan untuk memohon kemudahan atas segala cobaan

Ilmu, bekal untuk kita melakukan sesuatu
Melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi semua

Amal, bukti dari apa yang telah kita peroleh
Kita peroleh dari usaha, semangat, doa dan ilmu

Kawan apa Lawan?

teman adalah orang yang bisa membuat kita bahagia, tapi juga sangat bisa membuat kita tersiksa. Jika dinalar, sebagai siswa SMA yang sudah mau lulus dan mau meneruskan kuliah, sehaurnya kita sudah bisa memilah milah mana yang baik dan mana yang buruk. Menjaga perasaan seseorang juga harusnya bisa kita lakukan. Tapi kenapa teman dekatku beum bisa melakukannya, apa mereka memang tidak mampu melakukannya? Sering sekali perilaku mereka tanpa sengaja atau sengaja membuat hatiku terluka, tercabik bagai tak teranggab. Mungkin aku terkadang berbuat seperti itu, tapi tidak ke teman dekatku. Perasaan sangat erat hubungannya dengan kejiwaan, kalau kalian tidak memikirkan perasaan orang lain, bukan salah kalau kalian dianggab sakit jiwa. Aku memang selalu membiarkan kalian berbuat semau kalian, tapi sebagai teman, aku juga tidak mau kalian berbuat yang dapat merugikan diri kalian sendiri meskipun kalian menganggab hal itu baik menurut kalian. Aku sangat kecewa pada kalian searang, apa yang harus kulakukan? menjauh atau melupakan semuanya dan mengaggab tidak terjadi apa – apa? Apa kalian tidak pernah memikirkan perasaanku? Mungkin tidak. Continue reading